Tangis Bisu di Balik Slogan: Ketika Masa Kecil Anak-Anak Manggarai Terenggut di Rumah Sendiri
Bagi Susana Surya Sukut, Kepala Bidang Perlindungan Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Manggarai, tema optimis perayaan tahunan itu kerap kali terasa bak sebilah sembilu. Setiap harinya, ia tidak berhadapan dengan deretan slogan manis atau tumpukan kertas laporan administratif semata. Ia berhadapan dengan wajah-wajah mungil yang layu, tatapan kosong, dan nyawa-nyawa kecil yang hancur.

Penulis: Oleh: Susana Surya Sukut, S. Kep., Ns
MANGGARAI, wrtarakyatntt.com — Di balik deretan perbukitan Kabupaten Manggarai yang hijau dan menyejukkan mata, tersimpan luka yang tak selalu terdengar. Saat gempita Hari Anak Nasional menggaungkan slogan indah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”, di sudut-sudut sunyi rumah dan kampung yang jauh dari sorot lampu, ada anak-anak yang meringkuk ketakutan.
Masa kecil mereka dirampas; bukan oleh monster dari dongeng sebelum tidur, melainkan sering kali oleh tangan-tangan yang seharusnya memeluk dan melindungi mereka.
Bagi Susana Surya Sukut, Kepala Bidang Perlindungan Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Manggarai, tema optimis perayaan tahunan itu kerap kali terasa bak sebilah sembilu. Setiap harinya, ia tidak berhadapan dengan deretan slogan manis atau tumpukan kertas laporan administratif semata. Ia berhadapan dengan wajah-wajah mungil yang layu, tatapan kosong, dan nyawa-nyawa kecil yang hancur.
Angka yang Mewakili Ribuan Air Mata
Sepanjang tahun 2025, Susana dan timnya mencatat ada 38 kasus kekerasan terhadap anak di Manggarai. Tahun berganti, namun tangis itu belum juga mereda. Hingga awal Agustus 2026, 19 kasus baru kembali mengiris hati. Angka 38 dan 19 mungkin tampak kecil secara statistik bagi sebagian orang. Namun, di balik setiap digitnya, tersimpan tragedi yang memilukan.
Ada anak yang dipaksa menelan kepahitan trauma kekerasan seksual dalam diam. Ada bocah yang harus memikul beban layaknya orang dewasa karena ditelantarkan, dan ada pula yang dipaksa menyerah pada kerasnya himpitan ekonomi keluarga. Mereka kehilangan tawa renyah. Mereka kehilangan rasa aman di tempat yang seharusnya menjadi surga kecil mereka: rumah dan sekolah.
Jerit yang Terbungkam Jarak dan Tradisi
Tragedi ini semakin senyap ditelan bentang alam Manggarai yang berbukit-bukit dan sebaran penduduk yang tak merata. Jarak yang jauh dan akses yang terjal membuat rintihan anak-anak ini kerap luruh ditiup angin, tak sampai ke telinga mereka yang bisa menolong. Lebih menyayat hati lagi, jeritan itu sering kali dibungkam oleh tembok tebal bernama “aib”.
Banyak kasus kekerasan, terutama yang terjadi di dalam keluarga, sengaja dikubur dalam-dalam. Anak-anak dibiarkan menderita karena masyarakat belum tahu ke mana harus mengadu, atau terlalu takut melawan relasi kuasa. Di beberapa rumah tangga, tamparan dan pukulan masih dinormalkan berkedok “disiplin” dan pola asuh.
Belum lagi kisah pilu anak-anak yang ditinggal pergi orang tuanya merantau demi sesuap nasi. Dititipkan pada kerabat dengan pemahaman perlindungan yang minim, banyak dari anak-anak ini tak hanya kehilangan pelukan hangat orang tua, tapi juga rawan menjadi korban.
Menangkap Mereka yang Jatuh
Negara memang telah membentangkan payung hukum, dari Undang-Undang Perlindungan Anak hingga UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).
Pemerintah daerah Manggarai pun terus tertatih berupaya keras di tengah keterbatasan sumber daya manusia dan luasnya wilayah. Namun, membalut luka puluhan anak ini tak bisa dilakukan oleh satu tangan saja.
Ancaman baru bahkan terus mengintai hingga ke pelosok desa melalui layar gawai, membawa bahaya eksploitasi digital. Jika mengibaratkan tumbuh kembang anak sebagai jaring-jaring lapisan pelindung, maka ketika jaring terdalam—yaitu keluarga—robek dan justru melukai, siapa yang akan menangkap anak-anak ini saat mereka jatuh?
Jawabannya adalah tetangga, sekolah, sistem layanan, hingga negara. Semua pihak harus bergandengan tangan, menenun kembali jaring pengaman yang koyak, hingga ke kampung-kampung paling terpencil.
Dari balik meja kerjanya, Susana menatap nanar kenyataan ini. Ia tahu betul, setiap angka dalam laporannya memiliki nama, memiliki wajah yang basah oleh air mata, dan memiliki mimpi yang sempat dipatahkan paksa.
Merayakan Hari Anak Nasional tak seharusnya hanya sebatas seremonial, pembacaan pidato, atau sekadar slogan kosong. Di Manggarai, cita-cita “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” adalah sebuah doa panjang yang masih harus terus diperjuangkan dengan peluh dan air mata kolaborasi. Sebab, anak-anak kita berhak mendapatkan lebih dari sekadar tema yang indah. Mereka berhak atas pelukan yang aman, hari ini, dan esok hari.

